Tatanan dan Kewajiban Pandita dalam Lontar Siwa Sasana

Lontar Siwa Sesana merupakan sebuah lontar yang diperuntukan kepada para sadhaka yang menganut aliran Siwa Sidhanta dimana, dalam lontar ini berisikan tata cara seorang sisya yang akan menjadi pandita. Dalam lontar ini dijelaskan secara detail mengenai tata cara berguru, hal yang patut diperhatikan sebagai seorang pandita, sampai kepada hukuman-hukuman yang akan diterima jika seorang pandita… Detail

Penyatuan Dasa Aksara Bali, Sebagai Sumber Kekuatan

Dasa aksara merupakan sepuluh hurup utama dalam alam ini yang merupakan simbol dari penguasa alam jagat raya dan sangat erat hubungannya dengan dewata nawasanga. Dari sepuluh hurup bersatu menjadi panca brahma (lima hurup suci untuk menciptakan dan menghancurkan), panca brahma menjadi Tri aksara (tiga hurup), Tri aksara menjadi Eka aksara (satu hurup). Ini hurupnya: “OM… Detail

Siwaratri Kalpa : Lubdhaka oleh Mpu Tanakung

Mpu Tanakung adalah seorang Kawi Wiku yang mumpuni dalam bidang sastra, beliau berkata : “wruh ngwang nisphala ning mango jenek alanglang I kalangen ikang pasir wukir (KS,I:21) artinya,” aku tahu, percuma saja menikmati keindahan, jika hanya melanglang buana lalu terpesona menikmati keindahan pemandangan pasir-gunung “ analog dengan wacana itu Mpu tanakung menyapa kita bahwa, “… Detail

Kepercayaan Balian Usada & Ketakson di Bali

Istilah dukun tidak hanya di kenal dikalangan daerah tertentu saja melainkan diseluruh Indonesia sehingga beranekaragam kekayaan tentang ilmu pedukunan yang dimiliki di Indonesia. Kalau di Bali, dukun disebut balian. Kata balian berasal dari kata wali (b = w) yang artinya kembali. Dari kata wali lalu menjadi kata walian atau balian yang artinya orang yang dapat… Detail

Arsitektur Rumah Tradisional Bali

Menciptakan keselarasan dan keharmonisan serta integrasi yang menyeluruh antara mikrokosmos (buana alit) dan makrokosmos (buana agung) berlandaskan pada tata kehidupan sosial yang religius, merupakan pandangan hidup masyarakat Hindu di Bali. Pandangan ini di wujudkan juga dalam budaya masyarakat Hindu khususnya di Bali terutama dalam penataan bangunan tempat tinggalnya. Perwujudan bangunan perumahan di Bali sangat kompleks dan… Detail

Kanda Pat (Catur Sanak), Kekuatan Antagonis pada Manusia

Ketegangan antara kekuatan kebaikan dan kejahatan dijelaskan dalam Catur Sanak atau Kanda Pat (kanda mpat). Kanda Pat adalah ‘keempat saudara’ yang menyertai setiap orang sejak dalam kandungan atau, lebih tepat, sejak lahir sampai mati . Mereka disebut juga catur nyama atau sanak catur. Keempat saudara yang dimaksudkan itu adalah yeh nyom (air ketuban), getih, rah… Detail

Perkawinan “Padagelahang”, alternatif bagi perkawinan Nyentana

Salah satu fase penting hidup manusia dalam bermasyarakat adalah perkawinan. Dikatakan penting karena perkawinan dapat mengubah status hukum seseorang. Semula dianggap belum dewasa dan dengan dilangsungkannya perkawinan dapat menjadi dewasa atau yang semula dianggap anak muda (deha) dengan perkawinan akan menjadi suami istri (alaki rabi), dengan berbagai konsensus yuridis dan sosiologis yang menyertainya. Bentuk perkawinan… Detail

Siklus Perubahan 4 Zaman ( Catur Yuga)

Kembali kita berkenalan dengan sebuah kebenaran ajaran para tetua-tetua kita. Kenyataan alam sebagaimana adanya “Tiada yang langgeng di alam ini”. Semua berubah, semua bergerak. Dengan kenyataan seperti itu ungkapannya kemudian di balik. Tiada yang langgeng di alam ini, kecuali perubahan itu sendiri. Tiada sedetikpun bumi berhenti mengitari matahari. Tiada sedetikpun bulan berhenti mengelilingi bumi dan… Detail

Budaya Rendah Hati Bukan Rendah Diri

Tat twam asi. Dia, itu, adalah AKU juga. Karena di dalam dia, di dalam masing-masing mereka. Di dalam setiap ciptaanku adalah AKU. Karena itu, semua kamu, semua manusia adalah bersaudara. Semua makhluk manusia adalah bersaudara, satu dalam kemanusiaan, satu dalam berbumi dan satu dalam alam semesta. Hormat kepada diri sama artinya dengan hormat kepada orang… Detail

Menyame Braya, Persaudaraan dalam Perbedaan

Masyarakat Bali dalam menghayati penyamabrayan mengibaratkan bahwa kehidupan sosial yang plural dalam relasinya itu ibarat sebuah pohon: bahwa akar pohon diibaratkan adalah Tat Twam Asi (Aku adalah Kamu: manusia pada hakekatnya adalah satu), batangnya adalah vasudewam khutumbhakam (kita semua adalah keluarga), menyama braya adalah cabangnya, sedangkan daun, bunga dan buah adalah kerukunan. Hanya dengan memiliki… Detail